Ngaliwet: Ketika Kebersamaan Menjadi Warisan Nilai di SMAN 1 Manonjaya

Ngaliwet: Ketika Kebersamaan Menjadi Warisan Nilai di SMAN 1 Manonjaya
Oleh : Dr. Dan Artadinan, S.Pd., M.Pd.
Memaknai HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia melalui kebersamaan, kesederhanaan, dan rasa syukur
Ada tradisi yang mungkin tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan pesan pendidikan yang sangat dalam.
Di SMAN 1 Manonjaya, salah satunya adalah ngaliwet.
Hari ini, Jumat, 14 Agustus 2026, dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, warga SMAN 1 Manonjaya kembali berkumpul dalam suasana yang sederhana namun penuh makna. Kegiatan ini bahkan telah disusun dalam beberapa kelompok liwet yang melibatkan warga sekolah secara bersama-sama. Daftar kelompok liwet menunjukkan pembagian warga sekolah ke dalam delapan kelompok, sebuah gambaran bahwa kegiatan ini memang dirancang sebagai ruang kebersamaan, bukan sekadar kegiatan makan bersama.
Sebagai bagian dari keluarga besar SMAN 1 Manonjaya, saya merasa senang sekaligus bangga melihat tradisi sederhana ini tetap hidup.
Sebab, sesungguhnya ngaliwet bukan hanya tentang nasi, lauk-pauk, sambal, lalapan, atau makan bersama. Ngaliwet adalah tentang manusia yang duduk sejajar, berbagi, bercengkerama, dan merasakan bahwa kita adalah bagian dari sebuah keluarga besar.
Ngaliwet dan Filosofi Kesederhanaan
Liwet adalah makanan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Sunda. Ia lahir dari tradisi yang sederhana. Beras, air, bumbu, dan berbagai pelengkap disatukan dalam satu proses hingga menjadi hidangan yang dapat dinikmati bersama.
Di sinilah filosofi pertama dapat kita temukan:
Sesuatu yang sederhana dapat menjadi luar biasa ketika dihadirkan dengan kebersamaan.
Dalam kehidupan sekolah, kita sering berhadapan dengan berbagai perbedaan.
Ada kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, pegawai, dan berbagai unsur lainnya. Ada yang senior dan junior, ada yang berbeda bidang tugas, karakter, pengalaman, dan latar belakang.
Namun ketika duduk bersama dalam satu hamparan liwet, sekat-sekat itu menjadi lebih tipis.
Tidak ada meja khusus untuk jabatan.
Tidak ada piring yang menunjukkan pangkat.
Yang ada adalah manusia dengan manusia.
Inilah pendidikan karakter dalam bentuk yang paling nyata.
Liwet Mengajarkan Bahwa Tidak Ada yang Berdiri Sendiri
Liwet tidak lahir dari satu tangan.
Ada yang mencuci beras.
Ada yang menyiapkan bumbu.
Ada yang menyiapkan lauk.
Ada yang memasak.
Ada yang menata hidangan.
Ada yang membersihkan tempat.
Ada pula yang mungkin tidak banyak terlihat, tetapi pekerjaannya membuat seluruh kegiatan berjalan.
Demikian pula sebuah sekolah.
Sekolah tidak pernah dibangun oleh satu orang.
Prestasi sekolah bukan hanya hasil kerja kepala sekolah. Bukan hanya kerja guru. Bukan pula hanya kerja tenaga kependidikan.
Ia merupakan hasil dari energi kolektif.
Ada guru yang mengajar dengan penuh dedikasi. Ada tenaga kependidikan yang memastikan administrasi berjalan. Ada petugas yang menjaga kebersihan. Ada guru yang membimbing siswa setelah jam pelajaran. Ada yang bekerja dalam diam, tetapi kontribusinya nyata.
Karena itu, filosofi liwet sangat relevan dengan kehidupan organisasi:
Setiap orang memiliki peran, dan setiap peran memiliki nilai.
Dari Beras Menjadi Nasi: Filosofi Transformasi
Ada satu hal menarik dari liwet.
Beras yang awalnya berupa butiran keras dan terpisah, ketika dipertemukan dengan air, panas, waktu, dan proses yang tepat, berubah menjadi nasi yang dapat dinikmati bersama.
Bukankah sekolah juga demikian?
Setiap individu datang dengan karakter, kemampuan, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda.
Jika dibiarkan berjalan sendiri-sendiri, perbedaan itu bisa menjadi jarak.
Tetapi ketika disatukan oleh visi, nilai, tujuan, komunikasi, dan kebersamaan, perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan.
Inilah salah satu filosofi penting yang dapat kita bawa dari liwet:
Perbedaan tidak harus diseragamkan. Perbedaan perlu dipersatukan oleh tujuan yang sama.
SMAN 1 Manonjaya tidak membutuhkan semua orang menjadi sama.
Yang dibutuhkan adalah semua orang bergerak ke arah yang sama.
Ngaliwet sebagai Ruang Membangun Silaturahmi
Dalam rutinitas sekolah, interaksi sering kali terbatas pada urusan pekerjaan.
“Pak, ini suratnya.”
“Bu, bagaimana kegiatan ini?”
“Besok ada rapat.”
“Ini administrasinya sudah selesai?”
Interaksi seperti itu penting. Tetapi manusia membutuhkan ruang yang lebih cair.
Ngaliwet menciptakan ruang tersebut.
Di sana, percakapan bisa menjadi lebih manusiawi.
Orang yang setiap hari hanya bertemu dalam konteks pekerjaan dapat mengenal sisi lain dari rekannya.
Tertawa bersama.
Bercerita.
Saling membantu.
Saling berbagi.
Dari sinilah tumbuh trust, rasa percaya yang menjadi modal penting dalam sebuah organisasi.
Sebuah sekolah yang kuat bukan hanya sekolah yang memiliki sistem yang baik.
Sekolah yang kuat adalah sekolah yang orang-orang di dalamnya saling percaya dan saling mendukung.
Kemerdekaan Bukan Sekadar Upacara
Memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia tentu bukan sekadar mengibarkan bendera, mengenakan pakaian bernuansa merah putih, atau mengikuti berbagai perlombaan.
Kemerdekaan juga perlu diterjemahkan menjadi nilai yang hidup dalam keseharian.
Kemerdekaan berarti mampu menghargai perbedaan.
Kemerdekaan berarti mampu bekerja sama.
Kemerdekaan berarti mampu bertanggung jawab.
Kemerdekaan berarti mampu menghargai orang lain.
Kemerdekaan berarti memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan komunitas.
Dan dalam konteks sekolah, kemerdekaan berarti menciptakan ruang pendidikan yang membuat setiap warga sekolah dapat tumbuh, berkontribusi, dan menjadi manusia yang lebih baik.
Maka, ngaliwet adalah salah satu cara sederhana untuk menerjemahkan semangat kemerdekaan ke dalam kehidupan sekolah.
Dari “Saya” Menjadi “Kita”
Ada perubahan kata yang sangat penting dalam sebuah organisasi.
Dari saya menjadi kita.
Ketika seseorang berkata:
“Ini tugas saya.”
orientasinya adalah individu.
Tetapi ketika seseorang berkata:
“Ini tanggung jawab kita.”
maka lahirlah rasa memiliki.
Ngaliwet mengajarkan perubahan itu secara sederhana.
Makanan yang kita bawa bukan hanya untuk diri sendiri.
Tempat yang kita gunakan bukan hanya untuk kelompok kita.
Kebersihan yang kita jaga bukan hanya karena diperintah.
Kebahagiaan yang kita rasakan bukan hanya milik pribadi.
Semuanya menjadi milik bersama.
Inilah yang disebut sense of belonging.
Dan sekolah yang memiliki sense of belonging yang kuat akan memiliki energi yang berbeda.
Orang tidak sekadar datang untuk bekerja.
Mereka merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Delapan Kelompok, Satu Keluarga
Menarik bahwa kegiatan liwet hari ini dibagi ke dalam delapan kelompok. Dokumen kegiatan mencatat pembagian kelompok 1 sampai kelompok 8 dengan anggota dari berbagai unsur warga sekolah.
Secara simbolik, delapan kelompok itu dapat kita lihat sebagai delapan ruang kecil yang kemudian dipertemukan dalam satu keluarga besar.
Kelompok boleh berbeda.
Menu boleh berbeda.
Cara mempersiapkan boleh berbeda.
Tetapi tujuan akhirnya sama:
bersama-sama menikmati kebahagiaan.
Begitulah semestinya sebuah organisasi.
Kita boleh berbeda tugas.
Berbeda pemikiran.
Berbeda cara bekerja.
Bahkan sesekali berbeda pendapat.
Tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan tujuan bersama.
Karena pada akhirnya kita berada di rumah yang sama:
SMAN 1 Manonjaya.
Ngaliwet sebagai Pendidikan yang Tidak Tertulis
Ada pendidikan yang tertulis dalam kurikulum.
Ada pendidikan yang tercantum dalam modul.
Ada pendidikan yang disampaikan melalui pembelajaran di kelas.
Tetapi ada pula pendidikan yang tidak tertulis, yang justru sering kali paling lama diingat.
Ketika seorang guru membantu menyiapkan makanan, seorang pegawai membantu membersihkan tempat, seorang rekan berbagi lauk, atau seseorang mengajak rekannya duduk bersama, sesungguhnya sedang terjadi proses pendidikan.
Anak-anak mungkin tidak melihat seluruh proses itu secara langsung.
Tetapi budaya sekolah akan berbicara.
Mereka akan melihat bahwa sekolah mereka memiliki nilai:
kebersamaan, gotong royong, kepedulian, kesederhanaan, dan penghargaan terhadap sesama.
Itulah pendidikan karakter yang tidak membutuhkan papan tulis.
Mengapa Tradisi Seperti Ini Perlu Dipertahankan?
Tradisi sekolah tidak semuanya harus dipertahankan.
Yang perlu dipertahankan adalah tradisi yang memiliki nilai.
Jika sebuah tradisi mampu memperkuat hubungan antarmanusia, membangun rasa memiliki, menanamkan gotong royong, menghadirkan kegembiraan, dan menghidupkan identitas sekolah, maka tradisi tersebut bukan sekadar rutinitas.
Ia telah menjadi budaya organisasi.
Dan budaya yang baik adalah aset yang tidak tercantum dalam RKAS, tidak tersimpan dalam lemari administrasi, tetapi terasa dalam perilaku sehari-hari.
Karena itu, saya berharap ngaliwet di SMAN 1 Manonjaya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan.
Jadikan ia sebagai pengingat.
Bahwa kita pernah duduk bersama.
Bahwa kita pernah berbagi.
Bahwa kita pernah tertawa dalam ruang yang sama.
Dan bahwa di tengah kesibukan pekerjaan, kita tetap membutuhkan ruang untuk saling mengenal sebagai manusia.
Pada Akhirnya, Liwet Mengajarkan Kita tentang Rumah
Rumah bukan hanya bangunan.
Rumah adalah tempat kita merasa diterima.
Tempat kita dapat menjadi diri sendiri.
Tempat kita berbagi suka dan duka.
Tempat kita merasa memiliki dan dimiliki.
Saya ingin SMAN 1 Manonjaya menjadi rumah seperti itu bagi seluruh warganya.
Rumah bagi guru.
Rumah bagi tenaga kependidikan.
Rumah bagi seluruh keluarga besar sekolah.
Tempat setiap orang merasa bahwa kontribusinya berarti.
Tempat setiap orang merasa dihargai.
Tempat perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan, tetapi menjadi kekuatan untuk bergerak bersama.
Dan mungkin, itulah pesan paling sederhana dari sepiring nasi liwet:
Kita tidak harus memiliki banyak hal untuk bisa bahagia. Kadang-kadang, kita hanya perlu duduk bersama, berbagi apa yang kita punya, dan menyadari bahwa kebersamaan adalah rezeki yang sering kali terlupakan untuk disyukuri.
Hari ini kita makan bersama.
Tetapi mudah-mudahan yang kita bawa pulang bukan hanya rasa kenyang.
Kita membawa pulang rasa syukur.
Kita membawa pulang rasa memiliki.
Kita membawa pulang semangat gotong royong.
Dan yang paling penting, kita membawa pulang kesadaran bahwa SMAN 1 Manonjaya bukan sekadar tempat kita bekerja atau belajar, tetapi sebuah keluarga besar yang sedang bersama-sama menulis sejarahnya.
Selamat memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Mari terus merawat tradisi baik.
Mari terus menumbuhkan kebersamaan.
Mari terus menjadikan sekolah bukan hanya tempat mencerdaskan kehidupan, tetapi juga tempat memanusiakan manusia.
SMAN 1 Manonjaya
Unggul, Religius, Berkarakter
Dari liwet kita belajar kebersamaan.
Dari kebersamaan kita membangun kekuatan.
Dari kekuatan kita menjemput masa depan.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka!!!!
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
“Sucikan Diri, Eratkan Hati, dan Jalin Silaturahmi”
“Sucikan Diri, Eratkan Hati, dan Jalin Silaturahmi”
"Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin."
Keluarga Besar SMAN 1 Manonjaya mengucapkan: "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin." Semoga kita semua kemba
Dharma Wanita Persatuan KCD Wilayah XII Gelar Bakti Sosial Ramadhan 1447 H
Dharma Wanita Persatuan KCD Wilayah XII Gelar Bakti Sosial Ramadhan 1447 H Oleh: Mella Lisyanti Gustiar, M.Pd. Tasikmalaya — Dharma Wanita Persatuan (DWP) Cabang Dinas Pendidika
YOUTH INNOVATION FESTIVAL
Kegiatan Youth Innovation Festival yang dilaksanakan hari Ahad 21/8 2022 dengan pembimbing Mr. Yisar berjalan lancar dan sukses. Alhamdulillah siswa SMAN 1 Manonjaya bisa perse
West Java Swimming Championship Series II (PRSI Kabupaten Tasikmalaya Cup 2022)
Assalamu'alaikum wr.wb.Seluruh civitas academika SMA Negeri 1 Manonjaya mengucapkan selamat dan sukses atas prestasi yang diraih oleh peserta didik kita yang bernama Rafly Siddiq Husaen
Peringatan Hari Besar Islam 10 Muharam 1444 H, SMAN 1 Manonjaya 2022
Manonjaya, Senin, 8 Agustus 2022, Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1444 Hijriyah, umat Muslim biasanya mengadakan berbagai kegiatan keagamaan unt
Pembukaan Kantin Smanza (25 Juli 2022)
Senin 25 Juli 2022 Kepala SMAN 1 Manonjaya, Bapak Andi Riyandi, M.Pd. meresmikan pembukaan kantin baru yang ada di Kampus SMAN 1 Manonjaya. Secara simbolis, dalam peresmian kantin ini
Seputar PPDB SMAN 1 Manonjaya
https://ppdb.disdik.jabarprov.go.id/info-sekolah/tasikmalaya/sma/negeri/20210741